Kaitan Tradisi Tumpek di Bali dengan Global Warming

Pemerintah dan masyarakat diseluruh dunia pada masa peradaban modern ini sangat mengkhawatirkan akan masa depan peradaban kehidupan manusia di masa yang akan datang, hal ini disebabkan semakin tidak menentunya cuaca yang terjadi pada tahun-tahun belakangan ini. Perubahan besar yang terjadi pada iklim dunia yang dirasakan pada masa sekarang ini adalah puncak akumulasi dari perusakan lingkungan yang telah dilakukan oleh umat manusia pada masa mulainya kemajuan teknologi yang didorong dengan semakin tumbuh menjamurnya berbagai industri-industri di dunia tanpa memperhatikan efek samping dari pertumbuhan perekonomian yang dialami berbagai negara di dunia.

Indonesia sebagai negara yang memiliki hutan dan lautan yang luas, merupakan salah satu negara penyumbang oksigen terbesar di dunia yang tersisa pada masa sekarang ini sangat diharapkan untuk menjaga kelestarian alamnya. Hal ini menjadi suatu konflik kepentingan bagi pemerintah negara ini, satu sisi pemerintah harus mengejar peningkatan perekonomian masyarakatnya sedangkan di satu sisi mereka harus menjaga kelestarian alamnya tersebut untuk kepentingan keselamatan umat manusia diseluruh dunia. Akan tetapi untuk kepentingan yang lebih luas, kebijaksanaan pemerintah dalam hal lingkungan hidup haruslah selalu selaras dengan kepentingan meningkatkan perekonomian masyarakatnya. Untuk itu sudah menjadi kewajiban negara-negara yang kuat perekonomiannya di dunia membantu mencarikan solusi yang saling menguntungkan, karena bagaimanapun juga negara-negara maju tersebutlah yang menjadi penyumbang terbesar pencemaran lingkungan di dunia ini.

Pada beberapa waktu belakangan ini seringkali kita tonton di stasiun-stasiun TV tentang masalah Ilegal Logging (penebangan liar) yang hanya menguntungkan beberapa oknum dan kalangan tanpa memperhatikan kerusakan lingkungan yang ditimbulkannya. Banjir, Tanah Longsor, Gelombang Pasang, dan sebagainya merupakan efek yang muncul dari adanya kegiatan tersebut. Kita sangat sedih melihat jatuhnya banyak korban dari masyarakat yang tertimpa bencana-bencana alam tersebut.

Pulau Bali sebagai salah satu bagian dari kepulauan yang ada di Indonesia sebenarnya sudah memiliki perencanaan yang tepat dalam mengantisipasi apa yang terjadi pada lingkungan hidup belakangan ini. Filosofi masyarakat Bali yang dipengaruhi oleh agama Hindu dengan penerapan yang agak berbeda dari asal agama Hindu itu sendiri yaitu India, sangat berpegang teguh pada kepedulian terhadap lingkungan hidup sekitarnya. Salah satu wujud dari pemikiran para leluhur masyarakat Bali tentang kepedulian pada lingkungan bisa kita lihat dengan adanya prosesi upacara tumpek yang jatuhnya setiap hari sabtu.

Di Bali dikenal ada beberapa tradisi upacara tumpek yaitu; tumpek uduh/bubuh (untuk tumbuh-tumbuhan), tumpek uye/kandang/pengatag (untuk binatang/hewan), dan tumpek landep (untuk senjata/benda berbahan logam). Tradisi upacara tumpek ini merupakan salah satu bentuk penghormatan dan rasa terima kasih masyarakat Hindu Bali pada alam lingkungan hidup disekitarnya yang telah banyak memberikan manfaat bagi kehidupan mereka. Pada hari-hari tumpek tersebut, mereka akan memperlakukan tumbuhan dan hewan seperti layaknya manusia. Mereka dibuatkan upacara khusus supaya semakin memberikan manfaat yang baik bagi kehidupan manusia. Masyarakat Hindu Bali tetap melaksanakan tradisi upacara tumpek yang diwariskan pada mereka secara turun temurun tanpa terpengaruh pada kemajuan jaman dan peradaban manusia di dunia ini.

Ada juga sebuah kebiasaan unik di Bali yaitu banyaknya ditemui pohon yang dipakaikan kain. Kadangkala banyak orang tidak mengerti mengapa masyarakat Bali memberikan kain putih hitam (kotak-kotak/”poleng”) pada sebuah pohon besar. Mungkin jika ada yang bertanya pada masyarakat lokal akan dijawab bahwa itu pohon angker dan ada yang berstana di sana, padahal maksud yang terkandung didalamnya adalah agar masyarakat tidak menebang pohon sembarangan, sehingga kelestarian alam dan lingkungan akan tetap terjaga. Mungkin jika kebiasaan ini juga terdapat dalam setiap masyarakat Indonesia lainnya, maka apa yang disebut sebagai Ilegal Logging akan sulit ditemui.

Mungkin jika para pengambil keputusan mau berpijak pada tradisi-tradisi adat yang berlaku seperti di Bali, dan ikut menjaga kelestarian adat istiadat dan budaya atau bahkan semakin memperkuatnya dengan peraturan-peraturan yang mempunyai kekuatan hukum sehingga kebijaksanaan pemerintah terhadap lingkungan hidup akan bisa lebih berjalan dengan melibatkan tokoh-tokoh adat masyarakat setempat disekitar lingkungan alam (hutan/laut) yang dimaksud. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri-sendiri untuk melakukan penyelamatan terhadap lingkungan alam di Indonesia. Apabila pemerintah terbentur akan masalah biaya, bisa dilakukan dengan melakukan pembicaraan dengan negara-negara industri maju untuk memberikan bantuan dengan sistem kompensasi, seperti yang telah diutarakan sebelumnya; negara-negara industri ini menjadi penyumbang terbesar terhadap kerusakan dan perubahan lingkungan demi untuk kepentingan ekonomi mereka, tapi mereka menekan negara-negara seperti Indonesia untuk tetap melestarikan alamnya. Jadi bisa dikatakan mereka mendapatkan banyak uang dari kegiatan industrinya tapi tetap mau udara yang segar dan gratis dari negara lain yang kekurangan dalam perekonomiannya.

Bali, 19 Juli 2008

Klimaks Berjalan Lancar

Akhirnya baru sekarang ini bisa posting lagi. Minggu-minggu ini sibuk sebagai KPPS di banjar, saya menjadi KPPS 2 dengan tugas cek and ricek pemilih, serta menghitung data dan jumlah pemilih yang hadir (pria dan wanita) serta tugas lainnya yang membuat tangan capek nulis dan paraf. Dan tugas ini saya ambil supaya saya tahu bagaimana beratnya jadi anggota KPU dalam area yang paling kecil (banjar) dan ini pengalaman saya yang kedua setelah pemilu lalu yang hanya jadi tukang jaga tinta. Antara capek dan honor yang didapat tidak sebanding sih, tapi kepuasan kalau acara pilkada kemarin di banjar saya berlangsung lancar tanpa hambatan baik dari peserta pemilih maupun para saksi pasangan cagub cawagub.

Pada pilkada kemarin di banjar saya pemenangnya adalah pasangan no. 3 (Pasti Yoga) dengan 169 suara, urutan berikutnya CBS dengan 136 suara, dan Win AP dengan 69 suara (mayoritas pendatang). Pemilik hak memilih di banjar saya sebanyak 519 orang tapi yang hadir hanya 371 orang dengan 3 dari luar TPS. Jadi ada 148 yang absen, karena sebab; tidak ada di Bali, alasan kerja jauh, tidak dapat dispensasi libur karena kurang sosialisasi dari pemda apakah hari libur atau tidak, sudah pindah alamat, tidak tahu akan perubahan tempat memilih dari TPS sebelumnya karena kurang mau bertanya dan lihat papan pengumuman pemilih, dan sebab lainnya termasuk Golput.

Tapi apapun itu namanya, saya tetap merasa senang klimaks dari pilkada di Bali secara menyeluruh berlangsung aman, walaupun ada riak-riak kecil dibeberapa daerah. Diluar persoalan menang kalah dalam pilkada kali ini, ada suatu berita mengejutkan yang saya baca di harian Denpost sehari sebelum tanggal pencoblosan yaitu komentar Prof. Ibrahim (dosen FH Unud) yang menyatakan bahwa ada kesalahan KPU dalam menetapkan Mangku Pastika sebagai cagub yang sah karena beliau dikatakan belum pensiun dari Polri, inipun diperkuat dengan tidak bisanya Bpk. Mangku Pastika mencoblos karena tidak memperoleh kartu pemilih karena sebab tersebut. Dalam komentarnya di Denpost, Prof. Ibrahim menyebutkan dalam UU Polri kalau masih aktif tidak boleh memilih dan dipilih. Hal ini jadi pertanyaan apakah keliruan ini disengaja atau kelalaian semata, apalagi setelah Bpk. Mangku Pastika ternyata jadi pemenang dalam Pilkada ini. Tapi saya berharap hal tersebut jangan terlalu menjadi permasalahan dan bisa diselesaikan secara damai (walaupun saya bukan simpatisan salah satu calon) karena rakyat Bali sudah menetapkan pilihannya sekitar 75% kepada Bpk. Mangku Pastika. Selamat kepada Bpk. Mangku Pastika dan Puspayoga; semoga apa yang anda ucapkan pada kampanye bisa diwujudkan, kami rakyat Bali akan menagih janji Bapak-Bapak berdua, sekali lagi selamat atas terpilihnya Bpk. Mangku Pastika dan Puspayoga dalam memimpin Bali 5 tahun kedepan.

Bali, 11 Juli 2008