

Kamis 17 April, tumben-tumbennya saya ke Lombok pake Kapal Laut………kata si Boss sih supaya bebas bawa mobil segala. Berangkat dari rumah jam 6 pagi (karena kejar penyeberangan jam 8 pagi), trus dijemput didepan Mc. Di Sanur. BTW, setelah semua yang akan berangkat terkumpul (hanya 4 orang dari rencana ber-lima) mobil Xenia Item meluncur ke PadangBai.
Setelah bayar tiket plus mobil plus parkir Rp. 543.000,- mobil pun masuk ke perut Ferry. Sampe di atas kapal ferry, saya duduk dipinggir sambil liat view laut dengan background gunungnya. Camera pun beraksi, jepret sana jepret sini. Dalam perjalanan (penyeberangan) yang memakan waktu 4 jam-an, diatas dek kapal kami berempat duduk-duduk sambil bicara tentang pekerjaan yang akan dilakukan di Lombok sana. Karena ngantuk setelah lama ngalor-ngidul, si Boss ke ruang dalem mo istirahat sambil nonton TV di kapal. Kita bertiga ngelanjutin obrolan.
Mendekati perairan pelabuhan Lembar, saya liat perahu-perahu tradisional (jukung) yang sama dengan jukung style Bali, Kamera-pun beraksi lagi……Sesampainya di pelabuhan, kapal Ferry yang kami tumpangi menunggu giliran bongkar muat di pelabuhan. Saat menunggu, datang orang-orang lokal (penduduk dari sekitar Lembar), mereka menawarkan makanan dan minuman selain ada yang mengamen. Pengamen itu menyita perhatian saya. Tanpa alat music, seorang pengamen kecil kira-kira 9 tahun umurnya menjadi penyanyi-nya. Teman-temannya hanya mendampingi sambil bawa kaleng untuk diisi uang dari penumpang. Yang membuat saya tertarik adalah karakter suara si pengamen cilik yang bagus, seperti peserta AFI atau Indonesian Idol. Terlintas dalam benak saya, seandainya saya seorang pencari bakat penyanyi dan melihat langsung bakat alam dari pengamen yang merupakan anak yang ekonominya kurang mampu tersebut pasti akan saya salurkan ke produser rekaman………
Setelah satu jam menunggu, kapal-pun berlabuh, mobil-pun bergegas menuju Mataram sebagai ibukota NTB dimana Boss saya punya bisnis. Dalam perjalanan saya liat jika view dan pantai Lombok sebenarnya tidak kalah kelas dibandingkan dengan Bali, tapi mereka hanya perlu meningkatkan kualitas SDM-nya dan kesadaran penduduk Lombok tentang kebersihan, karena didalam kota banyak terlihat Eek Kuda, yang bukan hanya membuat kotor tapi menjadi sumber bibit penyakit. Selain itu kurangnya petunjuk jalan, karena Kota Mataram sangat banyak terdapat perempatan.
Sampai di kota Mataram, si Boss langsung meluncur ke RM. Manalagi di Ampenan. Dalam pikiran saya, warung manalagi yang disajikan adalah sate kambing dan gulenya seperti di Bali, tapi setelah baca menu saya terkejut, ternyata yang ditawarkan adalah berbagai masakan China, dan kata si Boss yang pernah 2 tahun idup di Lombok, menu yang paling disukai adalah Mie Kuah. Dan kami berempat-pun pesan menu favorit itu plus tahu goreng daging dan tahu kuah daging. Mie pun abis kita santap, maklum kelaparan dari pagi. Rasa Mie kuahnya khas sekali dan belum pernah saya jumpai di Bali. Kemudian kita lanjutkan perjalanan ke Bandara Selaparang untuk kunjungi counter dan tanya perkembangan bisnis-nya ke staff disana.
Setelah capek keliling kota plus ketemu relasi si Boss disana, jam 7.30 malam kita cari penginapan di Kota. Saya, si Boss, dan satu teman yang laki-laki menginap di hotel ditengah kota, sedangkan salah satu teman kami yang wanita menginap di rumah kakaknya di Mataram. Dengan harga 70rb per-malam plus AC dan Kopi/teh hangat n’roti tawar isi selai sebagai b’fast, kami pun setuju dan check in. Hotel ini milik orang Bali dengan ornamen style Bali-nya, tapi sayang agak kotor. Kami menghabiskan waktu kerja 2 hari sampai hari Sabtu tanggal 19 April sore kami balik ke Bali. Karena naik kapal ferry (yang ini lebih besar) kami kembali ke PadangBai, dan sampai jam 11 malam. Saya sampai rumah jam 12-an dengan badan capek sekali.
Bali, 21 April 2008















Hasil jeprat-jepret mana bli? Koq gak dipasang?
Tp kesan saya waktu ke Lombok juga emang disana gak jauh beda sama Bali. Saya juga setuju, kebersihan emang perlu diperhatikan lagi. Terutama di daerah Mataram. Pantai Kuta dan Senggigi lumayan bersih koq bli.
to Didi: hasil jepretan amatir masih di kamera, blom sempat ditransfer. Pantainya sih oke dengan view yang menurut saya bagus, tapi jalan ke sana yang kurang digarap terutama pinggir-pinggir jalan masih terkesan kotor, selain itu juga dikota kurang tanda petunjuk arah ke suatu objek dan lalulintasnya lebih tidak disiplin dibandingkan di Bali seperti; blom adanya keharusan pake safety belt utk pengendara mobil, yang dibonceng sepeda motor tidak pake helm, cidomo yang melawan arah dan masih banyak lagi yang luput dari perhatian saya………….
koment saya sama ama dek didi.mana hasil jepretannya??
pingin tau pemandangan lombok dari atas kapal.trus sejorok apa sih eek kuda yang dibilang orang banyak berceceran di jalan2?kali aja saya sempat ke lombok..
maklum sampe detik ini saya belum pernah ke lombok nih..hehe.
to Ady G: sabar men, kameranya msh dipake my Boss (maklum kamera milik kantor), tapi saya tidak jepret eek kuda…..saya udah 5x ke lombok (terutama kota mataram) tidak ada perubahan pada kebersihannya…kalau ady mo tahu joroknya tai kuda coba ke kereneng atau monang-maning trus dekati sebuah dokar liat langsung ke karung penampungnya, jadi tanpa ke lombok udah bisa ngebayangin, xixixi…………..
boss = Pak Budy / Pak Kris ???
to Pak Rama : bu ayu maksud ne (pak rama be kenal khan??), dia salah satu boss komparsa jani……….dia punya kamera (milik pribadi bukan perusahaan sih) merek fuji film finepix S9500 yang tapi kurang tau cara pake-nya, mau ketemu pak rama ajahin carane nganggo lebih baik
to pak rama : kalo boss ane tidur di kapal n’ pernah tinggal 2 taon nto pak budy