Menulis segala hal yang berhubungan dengan Bali tidak akan ada habisnya, hal ini disebabkan keunikan yang dimiliki oleh masyarakat di pulau dewata ini. Masyarakat Bali yang dari dulu sangat terkenal akan adat istiadat ataupun budayanya sangat menyadari untuk tetap mampu menjaga dan melestarikannya walaupun ditengah himpitan antara kepentingan hidup dalam kemajuan jaman yang serba modern ini.
Salah satu warisan peninggalan para leluhur masyarakat Bali yang sangat berperan penting dalam menjaga keajegan budaya Bali yaitu adanya Bale Banjar. Kenapa? Ini bisa kita lihat dalam kesehariannya yang begitu sibuk dengan berbagai kepentingan untuk memenuhi kebutuhan hidup, sekali waktu masyarakat Bali pasti akan saling bertemu dengan saudara, kerabat, tetangga-nya dalam suatu kegiatan yang diadakan oleh Banjar mereka. Jadi Bale Banjar disini dapat kita sedikit samakan dengan keberadaan RT/RW di daerah lain di Indonesia, akan tetapi satu hal yang tidak dimiliki oleh sistem RT/RW tersebut adalah adanya ikatan adat dan emosional antara anggotanya.
Dalam suatu banjar juga tersusun kepengurusan atau istilahnya pemerintahan terkecil. Banjar di Bali dipimpin oleh seorang Kelian Adat/Banjar yang sangat bersifat sosial atau ngayah (tanpa gaji bulanan). Dia akan dibantu oleh beberapa ‘prejuru’ banjar seperti; Petajuh (wakil kelian), Petengen (Bendahara), Penyarikan (sekretaris), Kelian Sekaa (ketua kelompok spt; kesenian gamelan, dsb.) dan yang terpenting yaitu Kesinoman (komunikasi ke anggota atau penghubung dalam basa Bali juga disebut “juru arah”).
Pada masa abad ke-20 ini, fungsi dan peran bale banjar semakin kompleks dan luas. Untuk daerah perkotaan atau yang sudah maju, beberapa memiliki fungsi secara ekonomi. Sebagai contoh kita dapat lihat bale banjar yang juga berfungsi sebagai ‘Los/Toko’ seperti bale banjar di areal pasar Badung, Kumbasari, dll. Ada juga yang ditemui bale banjar yang berfungsi sebagai ‘kantor’ untuk LPD atau Koperasi, sebagai sarana pendidikan pra-sekolah (Taman Kanak-Kanak) dan mungkin saja sudah ada bale banjar yang berfungsi sebagai “Restaurant atau Kafe” untuk yang berlokasi diarea rame wisatawannya seperti Kuta.
Selain fungsi berbeda dari bale banjar di Bali yang saya sebut diatas, fungsi utama dari bale banjar masih tetap berjalan seperti; kegiatan Posyandu, “Sangkep” Anggota, kegiatan pelestarian kesenian Bali (Gamelan, Tari, Utsawa Darmagita, dsb.). Maka boleh dibilang Bale Banjar mempunyai fungsi dan arti yang sangat strategis bagi masyarakat Bali.
Pernah diperdebatkan secara ramai baik di media maupun masyarakat Bali akan perubahan struktur Banjar ke sistem RT/RW pada tahun 1990-an. Akan tetapi hal tersebut tidak terjadi, hal ini disebabkan hampir seluruh masyarakat Bali tidak setuju di Bali diberlakukan sistem RT/RW, karena kita sudah memiliki struktur dan sistem pemerintahan masyarakat terbawah yang sudah sangat teruji dan tidak luntur dengan perkembangan jaman.
Salah satu kegiatan politik terbesar seperti Pemilu-pun bisa sukses di Bali karena adanya sistem Banjar dengan Bale Banjar-nya. TPS (Tempat Pemungutan Suara) tidak perlu susah-susah untuk mencari lokasi untuk mendirikannya karena keberadaan Bale Banjar yang bisa disulap menjadi TPS untuk kepentingan Pemilu tersebut. Demikian pula pendataan pemilih seharusnya bisa dilakukan dengan mudah yaitu dengan menyerahkan kepada pengurus banjar bersangkutan, dikarenakan mereka-mereka itulah yang lebih tahu siapa masyarakat-nya dan penduduk pendatang yang tinggal di area lingkungan banjarnya.
Jadi sekarang hal yang perlu dipikirkan oleh pemerintah daerah Bali yaitu dengan tindakan yang nyata adalah bagaimana tetap memperhatikan keberadaan Bale Banjar-Bale Banjar tersebut, yaitu dengan membantu perbaikan atau pembangunan bale banjar untuk banjar-banjar di Bali yang masyarakatnya berpenghasilan dibawah rata-rata. Untuk itu kepada Bapak-Bapak Cagub & Cawagub atau mungkin tim suksesnya apabila terpilih nanti mampu mengalokasikan dana untuk pelestarian Bale Banjar di Bali, jangan hanya membantu banjar yang banyak simpatisan mereka tapi secara keseluruhan karena jika sudah menduduki jabatan tertinggi di Bali bukan lagi mereka tersebut menjadi milik pendukungnya tapi seluruh masyarakat Bali.
Bali, 8 Mei 2008
DIarsipkan di bawah: Umum















yup…betul itu bli…keberadaan bale banjar mesti di lestarikan…namun [dulu] banyak bale banjar yang beralih fungsi menjadi tempat tajen dan untungnya sekarang hal itu tidak terulang lagi…dan semoga para cagub n wakilnya menyadaari bahwa tanpa anggota banjar mereka bukan apa2 karena suara bakalan datang dari mereka…baik itu yang mendukung dan yang tidak…
* wellcome in wordpress
perhatian pemerintah
hanya pada $$$ doank bli
pasrah gen
to ICK : bersyukurlah kita di Bali diwariskan Bale Banjar oleh leluhur kita…..bagaimana di banjar bli sendiri?
to ARYA : Gpp kalo konsen ke $ asal dibagi juga ke banjar2, betul?
ada yg juga balai banjar yg diperuntukkan untuk sarana olahraga (badminton)
Banyak juga bale banjar yg menjadi multifungsi secara fisik, seperti sekolah TK dan toko.
to Wira & Tonny : bagaimana kalo bale banjar dijadikan tempat ngeblog atau kumpul2 para blogger
banjar banyak yg dikomersialkan sekarang