

Jumat tgl 23 Mei kemarin kantor saya didatangi 3 orang penyidik dari Depkominfo, setelah mereka memperkenalkan diri kemudian mereka menjelaskan kalau frekwensi internet yang dipakai menyalahi aturan. Menurut mereka provider tidak boleh pake frekwensi selain 2,4 GHz (penulisannya benar/salah ?) dan menurut catatan dari alat deteksi mereka bahwa provider yang saya pakai di office adalah 2,3 GHz dan itu melanggar UU penggunaan frekwensi untuk Internet. Kemudian mereka mengeluarkan surat peringatan yang ditujukan ke saya sebagai yang bertanggung jawab di kantor. Dengan sedikit mendebat saya katakan kalau saya ini hanya pengguna tanpa tahu provider tempat saya berlangganan itu pake frekwensi berapa atau bagaimana saya tidak peduli, yang penting pelayanan dan koneksinya lancar titik.
Tapi mereka ngotot kalau surat peringatan itu harap di tandatangani, dengan pasal-pasal pelanggaran yang tertulis yang salah satunya menyebutkan bagi pelanggar dikenakan denda Rp. 400juta (boiiiing)……kemudian saya minta garansi kalau tandatangan saya bukan berarti saya yang melanggar melainkan hanya penerima surat peringatan tersebut untuk disampaikan ke provider yang bersangkutan, mereka akhirnya memahami dengan memberitahu saya untuk komplain dengan provider bersangkutan.
Masalah diatas menjadi pertanyaan pada diri saya yang Gaptek ini. Pemerintah mendengung-dengungkan memasyarakatkan penggunaan IT termasuk Internet, tapi peraturan mengenai penggunaan frekwensi radio untuk internet terbatas (jalur khusus hanya untuk BUMN seperti: Indosat dan Telkom), sedangkan yang lain (swasta) hanya bisa pake jalur 2,4 GHz. Hal ini membuat persaingan provider menjadi tidak sehat, harga dari provider ke konsumen akhir seperti saya menjadi sangat mahal karena provider beli dari BUMN tersebut ( yang konon di Bali kedua BUMN itu sahamnya dikuasai oleh Singapore sehingga harga menjadi mahal) dan sangat monopoli sifatnya, jalur yang dipakai sangat krodit membuat internet sering down. Kalau hal ini terus menerus dibiarkan rakyat di negara kita ini akan semakin ketinggalan informasi, yang di negeri tetangga internet sudah merupakan barang murah, ken-ken kaden ne !!!!
Bali, 27 Mei 2008
DIarsipkan di bawah: Umum | Ditandai: Technology Informasi















emang pake apa komparsa sekarang bos?
“Kalau hal ini terus menerus dibiarkan rakyat di negara kita ini akan semakin ketinggalan informasi, yang di negeri tetangga internet sudah merupakan barang murah, ken-ken kaden ne !!”
*kita masih terlalu naif…. akui saja itu!!!
ah, itulah pemerintah kita. kalo bisa dipersulit, kenapa dibuat susah. bosen dg perilaku begitu terus. mana bisa maju negara ini kalo dikit2 kena sanksi. payah!
*sebel setengah mati sama pemerintah.
Buihhh Rp. 400 juta.
ckckckckck…….
Hiii ngeri juga dendanya.
to Rama: pake Citra Media
to Ardy: ya itulah negri kita, sudah 100th tidak mampu bangkit
to Anton: jangan setengah-setengah, full aja bli
to Gung De: 400juta, bisa buat Provider sendiri untuk Bali Blogger Community
Kok customer yang di tuntut ?
harusnya ISP kan yang tangung jawab …
) kelihatan bgt pak pak disana kurang pemahaman apa itu internet dan jaringannyan.
Kalo mau di tanding chat di YM, pasti pak pak itu belum ngerti juga
Ngacir ah…..
Bingung juga kok customer yang dituntut bukannya provider ? Lah itu kerjanya depkominfo ngapain aja ya ? cuma nakut nakutin customer tapi takut nangkep provider karena punya asing ? weleh keliatan banget gobloknya.
Bisanya pemerintah kan cuma memberatkan rakyat kecil,,ga usah heran dengan pemerintah kita..
itulah adanya sekarang…
Iya, denda 400 juta, mending cabut tuh koneksi, trus bikin provider sendiri.
Trus saya ikut nebeng, heheheheh……
waahh…
ternyata sebagai org yg bertanggung jawab di koneksi.
kita juga bisa kena juga.
sbg admin, UU ITE udah bikin ngeri.
ditambah hal-hal spt ini.. wah.wah..
tambah gile aja ini negeri..
ehh.. bli.. yg kena bli sendiri atau perusahaan.??
to Ianbali : mereka itu tidak tahu atau pura-pura tidak tahu ….jadi bingung
Thanks sudah mampir..
to Datyo : sambil menyelam minum air, pak !!! siapa tahu customer-nya takut, dapet deh mereka sogokan..gitu mungkin maksudnya….Thanks udah mampir Pak
to Ady G. : itulah yang saya herankan pada pemerintah kita..
to Dek Didi : ni saya punya 1000, dapet susuk nggak ya dari depkominfo?
to Yanuar : setelah saya debat, mereka bilang ke saya untuk nuntut provider karena pake jalur tak resmi (ini aneh kan mereka seharusnya mengusut provider-nya)
wah yang seperti ini nih yang saya takutkan. apakah orang2 tersebut benar2 dari pemerintah ataukah oknum2 yang tidak bertanggung jawab yang ingin mencari keuntungan dari penerapan UU ITE. btw, salam kenal bli…. kita tukeran link yuk???
to Ghozan : sepertinya sih resmi, mereka bawa form surat peringatan yang ber-kop resmi dari depkominfo dan plus stempel, salam kenal juga, thanks udah mampir…OK
brarti mereka kayaknya yg lengeh, ngapain yg didenda konsumennya, kita bayar ke provider, bayar denda pula..
brarti sudah jatuh ditimpa tangga, hahahaha
Masukin koran aja bli, bener ga tindakan mereka itu?
Sakit di kepala, kaki yang di potong.
Betul masukin koran aja, kalo ga muat masukin drum aja pala mereka tu…
Ngomong2 provider internet aku punya tulisan nih tentang Speedy
Eh bli ga catat atau ingat ya? nama bapak2 geblek itu….